Rumah Joglo Saridin Menceritakan pentas-pentas ketoprak

Joglo Saridin di Kampoeng Djowo Sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.di rumah joglo ada beberapa  barang kuno  seperti Obor atau oncor,kereta kencana ,Tulisan penanda nama Rumah ,Teras pendopo Rumah Joglo,Umpak soko guru atau tiang,dan Tampak samping Rumah Joglo

Nama Syekh Jangkung atau Saridin sangat dikenal oleh masyarakat Pati dan daerah lainnya di Pantura Timur Jawa Tengah. Saridin menjadi tokoh ikonik yang melegenda karena kesaktiannya.

. Kisahnya kerap ditampilkkan dalam pentas-pentas ketoprak dan bahkan pernah juga diproduksi dalam sebuah filmSalah satu kisahnya adalah, saat Saridin berguru pada Sunan Kudus.

Pada suatu hari ia dan para santri diminta mengisi bak air untuk wudhu, namun Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air.

Selain berguru kepada Sunan Kudus dan ia juga menjadi murid dari Sunan Kalijaga hingga akhirnya menjadi orang yang waskita dan menjadi penyebar Agama Islam di daerah Pati. Makam Saridin ada di Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.

Setiap hari, makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah. Meski hidup pada ratusan abad sebelumnya, namun siapa sangka ternyata masih ada jejak atau peninggalan Saridin yang masih bisa kita lihat sekarang. Yaitu sebuah rumah Joglo, atau arsitektur tradisional khas Jawa Tengah.

Saat ini rumah joglo tersebut masih terawat dengan baik di Kampoeng Djowo Sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal dan kini dinamai Joglo Saridin.

Anda Ingin Menikmati Makanan Orang Desa? Datanglah ke Kendal Humas Kampoeng Djowo Sekatul Elly Rusmilawati mengatakan, rumah joglo Saridin tersebut dibeli oleh Kampoeng Djowo Sekatul dari salah satu ahli waris Saridin.
“Joglo ini peninggalannya Syekh Jangkung atau Saridin dari Pati.

Dulunya ditempati ahli warisnya secara turun temurun, tetapi atas berbagai pertimbangan kemudian dijual kepada kami,” kata Elly, pertengahan Februari 2018. Namun sebelum dibeli dari oleh Kampung Djowo Sekatul, lanjut Elly, rumah Joglo Saridin ini pernah mau di jual kepada seorang investor dari Jepang.

Namun ada kejadian ganjil saat hendak dipindah, sehingga joglo ini batal dijual kepada investor Jepang tersebut.
“Ketika mau diangkat ke truk, tanpa sebab yang jelas tidak bisa dipindahkan. Karena itulah, ahli waris memilih menjual kepada kami dan atas seizin Allah Joglo Saridin ternyata bisa dibawa sampai ke sini.

Sejak saat itu, rumah Joglo Saridin melengkapi puluhan joglo yang tersebar di Kampoeng Djowo Sekatul dan menjadi salah satu spot foto yang paling diincar pengunjung.

Sejak saat itu, rumah Joglo Saridin melengkapi puluhan joglo yang tersebar di Kampoeng Djowo Sekatul dan menjadi salah satu spot foto yang paling diincar pengunjung.

Ada Ndalem Bagan, Ndalem Bonokeling, Ndalem Joyokusumo, Ndalem Jayengan, Ndalem Gethuk, dan Joglo Sardirin sendiri.
Kecuali Joglo Saridin, semuanya bisa disewakan sebagai rumah singgah, tempat resepsi perkawinan, seminar.

Untuk joglo Saridin sekarang sudah ditetapkan sebagai Keraton Kawitan Amarta Bumi,” jelasnya. Tak hanya enam joglo besar, tempat wisata yang dibangun pada tahun 1998 dengan luas lahan mencapai 12 hektar ini juga dilengkapi dengan 25 joglo-joglo kecil lainnya.

Sejarah Joglo Saridin Berdasarkan catatan Kampoeng Djowo Sekatul, rumah Joglo Saridin di tanah Sekatul diawali dengan sebuah wangsit yang didapat oleh Kanjeng Pangeran Adipati Haryo Herry Djojonegoro.

Rumah Joglo Saridin merupakan rumah milik Retno Jenoli, kakak dari Sultan Agung Anyokrokusumo, yang menjadi istri Syekh Jangkung (Saridin), juga merupakan sebuah hadiah sayembara yang dimenangkan oleh Saridin.
Saridin juga merupakan murid kesayangan dari Sunan Kalijaga, kemudian oleh Saridin rumah Joglo dibawa ke Kabupaten Pati.

Tahun 2009 Herry Djojonegoro menemukannya dalam kondisi lengkap, dan dibawa ke Sekatul untuk dilestarikan. “Joglo Saridin ini memiliki 2 massa bangunan, yakni Omah Lanang dan Omah Wedok. Omah Lanang difungsikan sebagai pendapa dan Omah Wedok sebagai tempat duduk kerajaan atau pertemuan khusus raja-raja, terletak di belakang omah lanang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *